DISIPLIN
KELAS
A. Hakikat
Disiplin Kelas
1. Disiplin
dan Disiplin Kelas
a. Disiplin
Pada setiap peristiwa
terdapat aturan dan taat pada aturan tersebut. Kebiasaan bangun pagi, keharusan
berbaris ketika masuk kelas, membuang sampah pada tempat yang disediakan, belajar
pada waktu tertentu adalah aturan yang ditaati oleh anak-anak. Jadi dapat
disimpulkan bahwa disiplin adalah ketaatan terhadap aturan
b. Disiplin
Kelas
Disiplin kelas
dilandasi oleh adanya hubungan guru-siswa dalam kelas. Disiplin merupakan
sebagai bagian pengelolaan kelas yang terutama berurusan dengan penanganan
perilaku yang menyimpang.
Disiplin dapat berarti
tingkat keteraturan yang terdapat pada satu kelompok, yaitu dalam kelas atau
teknik yang digunakan guru untuk membangun atau memelihara keteraturan dalam
kelas. Disiplin berarti hukuman sehingga mendisiplinkan berarti menghukum.
2. Disiplin
Kelas
Disiplin perlu
dipelajari serta dihayati oleh siswa, agar siswa mampu mendisiplinkan dirinya
sendiri. Tanpa diajarkan atau dipelajari, disiplin tidak akan tumbuh dan
berkembang karena disiplin bukan merupakan faktor bawaa, tetapi sesuatu yang
harus dipelajari dan dihayati.
Keberhasilan dan
kegagalan sekolah tergantung pada tingkat ketercapaian dalam menerapkan
disiplin yang sempurna. Keteraturan kehidupan sekolah dan ketaatan setiap orang
pada aturan tersebut sangat berperan dalam keberhasilan, meskipun masih banyak
faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan.
Tingkat ketaatan siswa
yang tinggi terdapat aturan kelas, maka ketaatan tersebut tumbuh dari diri sendiri,
bukan dipaksakan, akan menciptakan iklim belajar yang kondusif, yaitu iklim
belajar yang menyenangkan sehingga siswa terpacu untuk belajar.
Sebaliknya tingkat ketaatan
yang rendah terhadap aturan kelas akan membuat iklim belajar yang tidak kondusif,
tidak menyenangkan.
Kebiasaan untuk
mentaati aturan di dalam masyarakat akan memberi dampak yang luas bagi
kehidupan siswa di dalam masyarakat. Siswa yang terbiasa mentaati aturan di
kelas, akan mentaati pula aturan yang ada di dalam masyarakat.
3. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Disiplin Kelas
a. Faktor
fisik
Faktor fisik yang
mempengaruhi disiplin kelas mencakup guru, siswa dan ruang kelas. Guru yang
penampilannya rapi, sehat, dan tampak bersemangat akan lebih mudah mengatur
siswa daripada guru yang tampak lusuh dan lesu.
Kondisi fisik siswa
yang prima, serta panca indra yang sehat akan mempengaruhi ketaatan siswa pada
aturan, tetapi siswa yang sakit atau sedang kelaparan maka akan sulit
memusatkan perhatian pada pelajaran.
Kondisi fisik ruang
kelas, yang mencakup keamanan dan suasana peralatan, serta cara penggunaan
alat-alat pelajaran juga mempengaruhi tingkat disiplin siswa. Kelas yang
berantakan atau kondisinya sudah rusak sehingga dapat membahayakan siswa akan
dapat mengurangi kataatan siswa pada aturan.
b. Faktor
Sosial
Kualitas interaksi
sosial atau kualitas hubungan guru-siswa juga mempengaruhi disiplin kelas.
Hubungan yang akrab dan sehat, saling mempercayai akan mampu meningkatkan
disiplin kelas. Sebaliknya, hubungan yang tidak akrab, tidak sehat (rasa iri,
cemburu), serta saling mencurigai akan mengurangi ketaatan siswa pada aturan
kelas.
c. Faktor
Pisikologis
Faktor pisikologis atau
kejiwaan dianggap sangat berpengaruh pada tingkat kedisiplinan siswa. Faktor
psikologis mencakup, antara lain perasaan (senang, sedih, marah, bosan, benci),
dan kebutuhan (keinginan untuk dihargai, diakui, dan di sayangi).
Siswa yang sedih, marah
atau bosan akan berbeda tingkat kepatuhannya dibandingkan dengan mereka yang
sedang bergembira. Rasa kecewa karena beberapa hal, baik yang terjadi di rumah
maupun di sekolah akan mempengaruhi disiplin. Demikian rasa puas, terpenuhinya
keinginan untuk dihargai dapat mempengaruhi disiplin.
B. Strategi
Penanaman dan Penanganan Disiplin Kelas
1. Pandangan
tentang Penanaman dan Penanaman Disiplin Kelas
a. Pandangan
yang berfokus pada guru
Guru harus berusaha
agar suswa mengerjakan apa yang diinginkan oleh guru. Guru mendiktekan aturan
yang harus dipatuhi siswa dan jika ia melanggarnya, ia mungkin akan mendapatkan
perlakuan khusus.
b. Pandangan
yang berfokus pada kepentingan siswa, bukan kepentingan guru
Guru harus selalu
melihat apa yang dibutuhkan oleh anak dan guru harus berupaya agar kebutuhan
tersebut dapat dipenuhi. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk ikut
bertanggung jawab atas disiplin kelas. Jika ingin anak mampu menjadi manusia
yang bertanggung jawab dalam masyarakat maka sejak berada di bangku sekolah
kesempatan itu harus di diberikan kepada siswa.
c. Pendekatan
yang berhasil dalam membangun disiplin
Pendekatan yang
menghormati hak individu, mendorong peningkatan konsep diri siswa, serta
memupuk kerja sama.
d. Pandangan
humanistik, yaitu pandangan yang menekankan kemanusiaan
Perlunya komunikasi
yang terbuka dan jujur antara orang tua dan anak-anak atau guru dam siswa. Komunikasi
yang jujur dan terbuka sangat diperlukan sehingga guru tahu apa yang disukai
dan tidak disukai anak.
e. Pandangan
kaun behaviorism
Perilaku dapat
dipelajari dan dikontrol. Hukuman dan penguatan merupakan dua hal yang
dianjurkan untuk digunakan dalam menegakan disiplin.
2. Strategi
Penanaman Disiplin
a. Modelkan
tata tertib yang sudah ditetapkan oleh sekolah
Anak-anak SD sangat
taat kepada guru dari pada kepada orang tua, maka diri itu guru perlu
memodelkan disiplin itu. Cara terbaik untuk menanamkan disiplin adalah dengan
terlebih dahulu mendisiplinkan diri sendiri.
b. Adakan
pertemuan kelas secara berkala
Jika ada aturan yag
perlu ditinjau kembali, maka pertemuan kelas dianggap sebagai salah satu
alternatif yang efektif untuk menanamkan dan menangani disiplin kelas.
c. Terapkan
aturan secara fleksibel (luwes) sehingga siswa tidak merasa tertekan
d. Sesuaikan
penerapan aturan dengan tingkat pekembangan anak
e. Libatkan
siswa dalam membuat aturan kelas
3. Strategi
Penanaman Disiplin Kelas
a. Menangani
gangguan ringan
Kelas merupakan
masyarakat kecil yang penuh dengan interaksi. Gangguan-gangguan ringan yang
tidak sampai menggangu kelas secara keseluruhan tentu sering terjadi. Gangguan ringan
apabila dibiarkan akan dapat berubah menjadi gangguan berat, oleh karena itu
guru seharusnya dapat menerapkan strategi/teknik yang tepat sehingga
gangguantersebut tidak berkembang.
b. Menangani
gangguan berat
Gangguan berat atau
besar adalah pelanggaran yang dilakukan siswa yang dapat mempengaruhi siswa
lain atau mengganggu pelajaran. Oleh karena itu guru memberikan hukuman kepada
murid yang bersangkutan/ memanggil orang tua murid yang melakukan pelanggaran.
c. Menangani
perilaku agresif
Perilaku agresif adalah
perilaku menyerang yang ditunjukkan siswa di dalam kelas. Misalnya, ada siswa
yang berteriak atau menyerang/menyakiti temannya atau bahkan menyerang guru,
atau mungkin ada siswa melontarkan kata yang tidal senonoh sambil memukul meja.
Oleh karena itu sebainya guru melakukan perubahan atau menukar tempat duduk
siswa tersebut atau berusaha berbicara baik-baik dengan siswa yang agresif.
Daftar Rujukan
Anitah, Sri.
2014. Strategi Pembelajaran Di Sd. Tanggerang: Universitas Terbuka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar